Pages

Senin, 15 Desember 2014

Raja-raja Mataram

Pemerintahan Pu Daksa 
Pu Daksa berhasil naik tahta pada tahun 911 atau 912 M. Didalam pemerintahannya Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota sebagai calon pengganti, mungkin ini masalah yang peka bagi Daksa di dalam pemerintahannya. Menurut Prasasti Sugih Manek disebutkan permaisuri raja diantara mereka yang memperoleh persembahan dengan sebutan Rakryan Binihaji Prameswari. Selain itu juga ditemukan prasasti yang didalamnya memuat suatu peristiwa keagamaan. Rupanya perebutan kekuasaan diantara pangeran tetap berjalan terus. Pu Daksa memerintah tidak lama yaitu lebih kurang 8 tahun. Kemudian beliau digantikan oleh Rakai Layang Dyah Tlodong Sri Sarrana sanmatanuraya Tunggadewa.

Pemerintahan Rakai Layang
Seperti telah dikatakan di atas bahwa Daksa tidak menunjuk seorang putra mahkota. Dan ternyata Rakai Layang juga bukan pejabat eselon pertama dalam masa pemerintahan Daksa. Karena Rakai layang tidak ditetapkan sebagai calon pewaris tahta kerajaan sudah dapat dipastikan bahwa dia naik tahta dengan cara merebut kekuasaan dari pewaris yang sah. Dari sebuah prasasti yang bernama Prasasti Warudu Kidul diperoleh keterangan bahwa pada masa pemerintahan Rakai Layang terdapat orang-orang asingyang menetap dikerajaan Mataram. Rupanya mereka itu mempunyai status yang berbeda dengan penduduk asli. Yang jelas ialah bahwa orang asing tersebut terus membayar pajak karena dianggap mereka itu kelompok pedagang yang kaya raya.
Pemerintahan Rakai Layang juga tidak lama yaitu sekurang-kurangnya 8 tahun tidak lebih dari 12 tahun.

Pemerintahan Dyah Wawa
Pada tahun 849 saka muncul raja Dyah Wawa. Beliau menyebut dirinya anak Kryan Ladheyan Sang Lumahring Atas. Nama Kryan Ladheyan mengingatkan kita kepada nama Rakryan yang merupakan adik ipar Rakai Kayuwangi. Jelas beliau buakan anak Rakai Layang Dyah Tlodhong. Dia bukan keturunan dari raja Mataram sehingga dia tidak berhak menjadi raja dan menduduki tahta Mataram.
Keterangan menarik dari masa pemerintahannya adalah adanya pemberian Sima yang dianugrahkan pada juru Gusali atau pandai besi, perunggu, emas dan tembaga.
Masa pemerintahan Rakai Sumbo Berakhir dengan tiba-tiba, mungkin karena letusan gunung merapi yang terhebat dalam sejarahnya, maka kaum kerabat raja dan pejabat tinggi kerajaan serta rakyat yang daerhnya tertimpa bencana itu lari mengungsi ke arah timur ( Jawa Timur ).

Pemerintahan Pu Sindok
Sementara itu di Jawa Timur terdapat daerah yang sudah dikenal ada penguasa daerah yang tunduk kepada Mataram yaitu daerah Kanuruhan. Kemudian Pu Sindok membangun ibu kota Tamwlang. Sesuai dengan landasan kosmogonis kerajaan, maka kerajaan baru itu dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat pemujaan yang baru dan diperintahkan oleh wangsa yang baru pula. Maka meskipun Pu Sindok sebenarnya masih anggota wangsa Sailendra, mengingat kedudukannya sebagai rakyan mapatih I Halu dan     I Hino pada masa pemerintahan rakai Layang dan rakai Cumba ia dianggap sebagai pendiri Wangsa baru yaitu Wangsa Isana.
Pu Sindok mempunyai anak perempuan bernama Sri Isana Tunggawijaya yang kawin dengan Sri Lokapala dan mempunyai anak bernama Sri Makutawangsawardhana.
Pu Sindok sekurang-kurangnya memerintah sejak tahun 929 M sampai dengan      948 M. Dari masa pemerintahannya di dapatkan sekitar 20 prasasti yang sebagian besar tertulis diatas batu. Sebagian besar prasasti Pu Sindok berkeneen dengan penetapan Sima bagi suatu bangunan suci, kebanyakan atas permintaan pejabat atau rakyat desa.

Dharmawangsa Teguh
Dharmawangsa Teguh menurut kitab Wirataparwa, memerintah dalam dasawarsa terakhir abad 10 Masehi dan mungkin sampai tahun 1017 M. Melihat gelarnya yang mengandung unsur Isana. Ia jelas keturunan Pu Sindok secara langsung. Kemungkinan besar ia anak Makutawangsa Warddhana saudara Mahendradatta.
Dharmawangsa Teguh menggantikan ayahandanya duduk diatas tahta kerajaan Mataram.
Dharmawangsa Teguh yang begitu berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai keluar pulau Jawa ternyata mengalami keruntuhan di tangan seorang raja bawahannya sendiri yaitu Haji Wurawari.
Karena serangan yang dilakukan Haji Wurawari itu terjadi tak lama setelah perkawinan Airlangga dengan putri Teguh dapat diperkirakan bahwa mungkin sekali dia berambisi untuk mendampingi putri mahkota menggantikan Teguh diatas tahta kerajaan. Tetapi ternyata telah dipilih pangeran Pati dari luar Jawa, sekalipun kemenakan raja sendiri. Untuk melampiaskan kekecewaannya ia menyerang Srimaharaja secara tiba-tiba. Karena mendapat mendapat serangan yang tidak diduga itu akhirnya Dharmawangsa Teguh hancur. Menurut prasasti Pucangan beliau di candikan di Wwetan.

Airlangga
Dalam prasasti Pucangan menyebutkan bahwa Dharmawangsa Airlangga dapat menyelamatkan diri dari serangan Haji Wurawaridan masuk hutan dan hanya diikuti seorang hamba sahaya yang bernama Narottama.
Selama di dalam hutan Airlangga tidak pernah melupakan pemujaan terhadap   dewa-dewa. Karena itulah maka para dewa amat besar cinta kasihnya kepadanya dan mengharapkan agar dia dapat melindungi dunia dan dapat menggantikan kedudukan leluhurnya.
Akhirnya pada tahun 941 saka ia direstui oleh para pendeta Siwa, Budha dan Maha Brahmana sebagai raja dengan gelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa .
Mengenai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga lebih banyak keterangan di dapatkan karena banyak prasasti yang diketemukan lagi. Lain dari pada itu prasasti Pucanagan banyak memberi informasi peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya, prasasti Pucangan memuat silsilah Airlangga yang dibuat oleh para pujangga untuk memberikan pengesahan kepada raja.
Meskipun sudah ada silsilah itu tentu ada juga pihak yang merasa tidak puas dengan pemerintahan Airlangga. Sebab tidak mungkin keterangan pu Sindok binasa semua. Selain itu juga masih ada raja bawahan teguh yang berusaha memberontak, maka sebagian besar masa pemerintahan Airlangga dipenuhi dengan peperangan menaklukkan kembali semua raja bawahan.
Pada masa pemerintahnya dia memiliki pujangga yang ulung yaitu Mpu Kanwa yang menulis kitap Arjuna Wiwaha.
read more

Peradaban Mesir Kuno

1. Kehidupan Masyarakat Mesir
Di dalam suatu negara atau pemerintahan selalu dan pasti ada pelapisan atau stratifikasi masyarakat. Hal ini adalah untuk membedakan kelas-kelas sosial yang pada umumnya ada kesenjangan antara golongan atas dan golongan bawah. Demikian juga di Mesir, juga terdapat stratifikasi masyarakat.

    Bangsawan ( Fir’aun dan keluarganya, pejabat )
    Pedagang, usahawan dan kaum Borjuis
    Petani, pekerja kasar, orang Cina, orang asing

Fir’aun merupakan penguasa bagi bangsa Mesir dan merupakan pengejawantahan dari dewa dan ia juga merupakan jiwa negara. Ia bertanggung jawab atas pasang surutnya subgai Nil, hasil bumi, kemajuan perdagangan, nasib tentara dan terpeliharanya perdamaian. Dia juga pemilik tanah dan yang mengeluarkan undang-undang. Sehingga seluruh keadilan dan kepemimpinan berada di tangannya.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Fir’aun oleh para wakil-wakilnya.

Pemerintahan Sipre
Dipimpin oleh seorang Wazir atau perdana mentri. Ia merupakan pejabat utama negara dan satu-satunya orang selain raja yang dapat bertindak dalam urusan sipil. Ia juga mntri peperangan dan kepala polisi kerajaan. Ia juga sebagai juru bicara Fir’aun dan dianggap sebagai wakil kekuasaan surgawi.

Utusan Kuil
Dipimpin dan dikuasai oleh imam agung. Ia sangat berpengaruh karena dianggap sebagai juru bicara dewa. Imam yang paling utama adalah imam yang memuja Dewa Re, dewa Ptah di Memphis. Namun yang paling berkuasa adalah Imam dewa Ammon di Thebes. Hal ini dikarenakana dewa Ammon telah mengusir orang Hiksos dan membuka peluang Mesir untuk memasuki masa kejayaan baru.

Tentara Nasional
Golongan ini muncul pada wangsa ke-18 dan berkembang kuat sehingga Mesir bisa menjadi sebuah imperium. Pada awalnya golongan ini dipimpin oleh Fir’aun sendiri kemudian putra mahkota dan akhirnya dipimpin oleh perwira biasa. Mereka dilatih dan dididik untuk bertempur di segala medan.

selain Fir’aun dan wakil-wakilnya di Mesir ada golongan yang peranannya tidak kalah penting yaitu Juru Tulis yang mana juru tulis ini adalah orang yang menyampaikan perintah dari para penguasa ( raja ) kepada rakyat dan ia juga banyak mencatat urusan negara. Urusan yang paling penting adalah mencatat hasil pajak. Pada dasarnya kedudukan juru tulis ini terbuka untuk berbagai kalangan, namun pada kenyataanya tertutup bagi kaum petani, karena mereka dirasakan kurang berpendidikan sehingga kurang mampu untuk melakukan pencatatan dan urang cermat.
Untuk menjadi seorang juru tulis, mereka diharuskan besekolah di sekolah istana atau sekolah yang didirikan oleh para juru tulis sekuler. Orang yang ingin menjadi juru tulis haruslah orang yang tekun dan cermat untuk bisa bertahan dalam latihannya karena kurikulumnya sangat membosankan dan peraturannya keras.

Lapisan mayarakat selanjutnya adalah petani. Petani ini menggarap tanah dengan menyewa tanah-tanah milik Fir’aun. Sepanjang tahun para petani ini mengerjakan hal yang sama dalam pertaniannyayaitu meratakan lumpur Nil yang terendap karena sungai Nil meluap setiap tahunnya. Kemudian membajak, menanam, mengairi atau irigasi, memanen dan menyerahkan hasilnya ke lumbung dan pada musim kering memperbaiki tanggul dan membersihkan saluran air yang tersumbat. Namun dari rutinitas yang memboankan tersebut, mereka tetap punya waktu untuk melakukan pesta. Waktu melakukan pesta yaitu ketika musim banjir tiba, itu merupakan pesta keagamaan besar, sebab pada saat itu patung dewa dibawa dan diarak keliling negara. Pada saat itulah para petani libur dari tugas-tugasnya.

Pada lapisan terbawah adalah budak, para budak ini berasal dari tawanan perang, tidak mampu membayar utang dan sebagainya. Tidak semua budak bekerja keras dan kasar, ada juga yang dijadikan tentara atau bekerja di tanah bangsawan maupun imam. Namun pekerja budak yang paling berat adalah ketika mereka bekerja di pertambangan emas dan tembaga di wilayah Nubia, Sudan dan Sinai. Udara di daerah tersebut sangat kering dan panas sehingga banyak banyak yang sakit dan mati disana.

2. Seni Bangunan Sepanjang Masa
Seni merupakan suatu ungkapan atau pernyataan tentang apa yang mereka yakini, mereka idam-idamkan serta mereka yang junjung tinggi. Seni juga menjadi saksi yang bisa menceritakan suatu dan cerita sejarah karena seni mencerminkan perjalanan nasib bangsa serta memperlihatkan pergeseran paertahanan mereka.
Demikian juga para arsitek Mesir kuno yang mana mereka bisa menghasilkan sebuah karya yang indah dan megah serta mencerminkan keajaiban teknologi dimana mereka mebangun karya-karya besarnya hanya dengan peralatan yang sederhana.

Piramida
Merupakan makam para raja-raja Mesir. Bagi orang Mesir rumah tidaklah terlalu penting tetapi makamlah yang dipentingkan karena mnurut mereka di makamlah mereka menemukan kehidupan yang abadi.
Pada zaman prasejarah makam hanya ditutup dengan gundukan pasir atau tumpukan batu. Namun pada perkembangannya cara tersebut sudah tidak efektik lagi karena angin gunung menerbangkan pasir dan serigala banyak yang mencari bangkai diantara bebatuan. Sehingga pada masa wangsa-wangsa, orang Mesir membuatkan makam dari bata dan diatasnya ditutup dengan bidang datar dan kemudian menghiasnya yang disebut Mastaba.
Pada masa wangsa ke-3 untuk pertama kalinya dibangun sebuah bangunan yang terbuat dari batu yang disebut Piramid tangga. Piramid ini dibangun dengan sukarela oleh Imhotep uantu Fir’aun Djosen. Piramid ini terdiri dari 6 Mastab yang ditumpuk. Piramid ini berukuran 124m x 103m dan tingginya 60 meter. Pembangunan Piramid selanjutnya adalah dari wangsa ke-4 yaitu Piramid yang berada di daerah Gizeh. Piramid ini ditujukan untuk menghormati Khufu, Khafre dan Minkaure ( Cieps, Chephren dan Mycerius ). Mereka adalah orang yang memerintah pada wangsa ke-4.

Kuil
Pada masa kerajaan pertengahan, Piramid sudah tidak terlalu populer lagi. Bahkan Nephetre Mentuhotep, Fir’aun wangsa ke-11 membangun monumen untuk makamnya dan bukan Piramid di Deir el Bahri dekat Thebes. Yang mana disebelah monumen tersebut terdapat kuil untuk memujanya.
Pada kerajaan baru, ada dua macam kuil yang berkembang di Mesir :
a). Kuil makam : Yaitu kuil yang ditujukan untu para pemuja Fir’aun yang telah meninggal
b). Kuil dewa : Kuil ini digunakan sebagai tempat untuk bersemayamnya arca dewa dan tempat untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap dewa tersebut.

Di Mesir, hiasan untuk kuil ini mempunyai ciri khas tersendiri ( batu patung ukiran dan lukisan ). Hal ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu :
a). Tujuan utama seni Mesir adalah keagamaan dan ciri pokok agama adalah berpegang pada tradisi
b). Sejak semula Fir’aun adalah pelindung utama seni dan merupakan obyek seni yang paling luhur.
c). Pemikiran orang Mesir yang Konservatif

Patung
Para pemahat patung muncul pada masa awal dan mereka membuat patung untuk mewujudkan tokoh yang mereka lukiskan untuk selama-lamanya. Pada umumnya seniman Mesir tidak menaruh minat untuk menangkap emosi-emosi dalam diri seseorang, sehingga patung Mesir tidak bergerak dan hampa perhiasan.

Penggambaran patung penguasa ( Mesir ) Fir’aun pada setiap zamannya selalu berbeda :

a). Kerajaan lama
Fir’aun digambarkan sebagai seorang pemuda yang mempunyai bentuk fisik olahragawan, wajahnya tidak beremosi, tenang, percaya diri dan agung.
b). Kerajaan pertengahan
Fir’aun digambarkan sebagai orang yang angkuh sebagai penakluk. Ciri fisiknya terlihat letih dan tegang solah merasa berat karena tanggung jawab pemerintahan.
c). Kerajaan baru
Pada masa ini patung Mesir lebih banyak menggambarkan kekayaan dan kemewahan dan memperlembut kekerasan dan gaya seni. Hal ini menyebabkan seni menjadi lebih rumit dan menyebabkan seniman dengan lebih sadar mementingkan kesan yang akan ditimbulkan oleh karya seni yang merdeka.

Relief
Relief ini digunakan untuk menghidupkan orang yang sudah mati. Sama seperti patung, relief ini juga dibuat kaku dan konvensional. Kebanyakan relief di Mseir menggambarkan Fir’aun sebagai seorang raksasa dan rakyatnya adalah orang-orang yang kerdil. Pada akhir kerajaan lama, lukisan menjadi lebih hidup dan objeknya sudah berkembang dan bervariasi seperti lukisan pelayan, pekerja dan petani. Pada akhir abad pertengahan konsep Fir’aun sebgai tokoh ilahi semakin memudar, sedangkan pada kerajaan baru susana hiasan makam berubah dan beralih kearah nada yang suram. Kegembiraan berubah menjadi kemuraman dan percaya diri menjadi kebimbangan.
selain hal-hal diatas masih banyak kesenian Mesir yang abadi yang tidak akan habis dimakan zaman. Seperti Spinx, Oblix dan lain-lain. Satu yang pasti bahwa kesenian Mesir tidak pernah tegantung terhadap seni bangsa lain. Keagungannya terletak pada mutu serta kelanggengan seni itu sendiri. Itulah hal yang menyebabkan seni Mesir tetap terjaga abadi sepanjang masa.

read more

BUDI UTOMO

BUDI UTOMO berdiri di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Sutomo dan rekan-rekannya, untuk merealisasikannya diperlukan pengajaran bagi orang Jawa agar mendapatkan kemajuan dan tidak dilupakan usaha membangkitkan kembali kultur Jawa; antar tradisi, kultur, dan edukasi Barat di kombinasikan.
Corak baru yang diperkenalkan BUDI UTOMO adalah kesadaran local yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern dalam arti bahwa organissasi itu memiliki pemimpin, ideologi yang jelas, dan anggota. Yang sangat pada BUDI UTOMO karena organisasi ini diikuti oleh organisasi lainnya dan dari sinilah terjadinya perubahan sosio-politik.
Pancaran etnonasionalisme makin membesar dan hal ini di Budi Utomo ketika dalam kongres BUDI UTOMO yang diselenggarakan pada tanggal 3-5 Oktober 1908. dalam waktu singkat dalam BUDI UTOMO terjadi perubahan orientasi. Kalau semula orientasinyaterbatas pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam Batasviaasch Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, BUDI UTOMO cabang Jakarta mulai menekankan cara baru bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat. Didalam kongres itu terdapat dua prinsip perjuangan, yang pertama di wakili oleh golongan muda yang cenderung menempuh jalan perjuangan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial, sedangkan yang kedua, diwakili oeh golongan muda yang ingin tetap pada cara lama yaitu perjuangan sosio-kultur. Bagi golongan muda perjuangannya itu sangat tepat guna memberikan imbangan politik pemerintah.
Dalam perkembangan selanjutnya, meskipun ada kelompok muda yang radikal, tetapi golongan tua masih meneruskan cita-cita BUDI UTOMO yang mulia disesuaikan dengan perkembangan politik.
Pada dekade ketiga abad XX kondisi sosio-politik semakin matang dan BUDI UTOMO mulai mencari orientasi politik yang mantap dan mencari massa yang lebih luas. Kebijaksanan politik yang dilakukan oleh pemerintah kolonial, khususnya tekanan kepada pergerakan nasional maka BUDI UTOMO mulai kehilangan wibawa, terjadilah perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam BUDI UTOMO. Pengaruh BUDI UTOMO semakin berkurang dan pada tahun 1935 organsasi Budi Utomo ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak saat itu BUDI UTOMO terus mundur dari arena politik dan kembali ke keadaan sebelumnya.
Dalam perjalanannya, BUDI UTOMO dengan flesibilitasnya itu mulai menggeser orientasinya dari kultur ke politik. Edukasi Barat dianggap penting dan dipakai sebagai jalan untuk menempuh jenjang sosial yang lebih tinggi. Golongan priyayi cilik mendapat kesempatan untuk ikut serta memobilisasikan diri melalu kesempatan gerakan yang lebih merakyat. BUDI UTOMO hanya dikenal sebagai salah satu organisasi nasional yang pertama di Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu organisasi yang terpanjang usianya sampai dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

read more